Kalau kamu bingung memilih film, nampaknya “Pelangi di Mars” adalah pilihan yang bagus. “Pelangi di Mars” merupakan film animasi fiksi ilmiah keluarga yang diproduksi oleh Mahakarya Pictures. Disutradarai oleh Upie Guava. Premis yang dihadirkan dalam film ini bagus dan gak kalah dengan film-film luar negeri, lho.
“‘Pelangi di Mars” berlatar masa depan pada tahun 2090 dan mengisahkan kehidupan seorang anak yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars.
Kita semua tahu, di tengah dunia yang semakin akrab dengan krisis, baik krisis iklim, krisis pangan, hingga krisis masa depan peradaban, kita sering lupa satu hal penting, yaitu kemampuan untuk membayangkan kemungkinan lain soal keberlangsungan hidup kita.
Film Pelangi di Mars karya Upie Guava hadir mengingatkan kita akan hal itu. Animasinya ditampilkan melalui ide yang berani, liar, dan tetap berpijak pada logika yang masuk akal.
Film ini mungkin dikemas sebagai tontonan anak, tetapi sesungguhnya pesannya cukup menohok untuk yang sudah dewasa. Kegelisahan yang ditayangkan sangat relevan dengan kondisi bumi hari ini.
Sinopsis
Latar yang ada pada “Pelangi di Mars” adalah tahun 2090, ketika bumi sudah tak punya air dan manusia menaruh harapan terakhirnya pada langit. Di sanalah Pelangi, seorang gadis 12 tahun yang tak pernah mengenal bumi, menjalani hidupnya sebagai satu-satunya manusia yang benar-benar lahir di Mars.
Pelangi belajar memahami kesepian sebagai bahasa sehari-hari setelah harus kehilangan ibunya di usia delapan tahun saat mencari Zeolith Omega. Sejak saat itu, Pelangi hanya bertemankan Batik, sebuah robot yang ia kenali sejak kecil.
Meskipun peristiwa nahas telah Pelangi dan Batik alami, namun mereka tetap mencari Zeolith Omega ke seluruh sudut Mars hingga ia bertemu dengan robot-robot buangan yang telah ditinggalkan manusia karena dianggap tidak lagi berguna.
Pelangi, Batik, dan robot-robot ini pun akhirnya bertualang mencari Zeolith Omega bersama. Yang menarik adalah, robot buangan yang awalnya hanya dianggap “barang sisa” sampai ditinggalkan malah mampu membentuk sebuah kelompok yang solid, saling melengkapi, dan menemukan tujuan bersama.
Perjalanan mereka mencari Zeolith Omega untuk menyelamatkan Bumi menjadi lebih dari sekadar petualangan. Bahkan, Pelangi menemukan sekumpulan sesuatu dalam dirinya ikut hidup kembali.
Ekologi sebagai Latar yang Memberikan Pesan Tersembunyi
Premis tentang penyelamatan bumi melalui mineral Zeolith Omega dapat dibaca lebih dari dongeng dan cerita asal-asalan saja. Bisa jadi, Zeolith Omega adalah metafora tentang krisis ekologis yang sedang kita hadapi tentang keterbatasan sumber daya, dan upaya manusia mencari “jalan keluar” dari kerusakan yang juga kita ciptakan sendiri.
Bagi saya, gagasan ini merupakan cerminan mengenai manusia yang berulang kali mencari solusi jauh ke luar bumi, padahal akar persoalannya justru ada pada cara kita hidup sehari-hari. Cara kita memperlakukan bumi itu sendiri.
Terseliplah sebuah pertanyaan,
“Apakah kita akan terus mencari solusi di luar bumi, atau mulai memperbaiki cara kita hidup di dalamnya?”
Tokoh Dr. Pratiwi, astronot perempuan dari Indonesia kemudian hadir dan menjadi simbol penting. Ia bukan hanya penyelamat dalam cerita, tetapi representasi harapan dari perspektif yang seringkali tidak menjadi pusat dalam narasi global.
Momen-Momen Kuat dalam “Pelangi di Mars”
Salah satu momen paling kuat dalam film ini adalah ketika Dr. Pratiwi, yang tertinggal sendirian di Mars, melahirkan seorang anak perempuan yang ia beri nama Pelangi.
Adegan ini melampaui logika cerita fiksi ilmiah biasa. Pelangi ternyata bukan hanya karakter, tetapi simbol harapan keberlanjutan, dan masa depan yang lahir dari keterbatasan.
Perjalanan Pratiwi dan Pelangi untuk mengumpulkan Zeolith Omega agar bisa kembali ke bumi menghadirkan satu pesan sederhana namun mendalam:
bahwa pulang bukan hanya soal tempat, tetapi tentang usaha mempertahankan kehidupan itu sendiri.
Namun, justru di titik paling hangat itu, film ini menghadirkan kehilangan yang dalam.
Dalam sebuah bencana di Mars, Dr. Pratiwi harus meninggal dunia, meninggalkan Pelangi untuk bertahan hidup seorang diri.
Adegan ini terasa sangat kuat, bahkan banyak penonton anak-anak ikut menangis. Bukan hanya karena kehilangan sosok ibu, tetapi karena film ini secara halus memperkenalkan realitas bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Di sinilah menonton “Pelangi di Mars” menjadi lebih dari sekadar film petualangan, tapi juga memberikan pemahaman bahwa dalam hidup, kita akan selalu menemukan kehilangan, persahabatan, kepercayaan, dan kemampuan untuk terus bertahan hidup.
Teknologi sebagai Bahasa Imajinasi Baru
Secara visual, film ini menunjukkan lompatan yang luar biasa signifikan dalam eksplorasi teknologi perfilman Indonesia. Penggunaan beberapa teknologi seperti:
- CGI (Computer-Generated Imagery) untuk membangun lanskap Mars
- Visual Effects (VFX) untuk menciptakan dunia futuristik
- serta kemungkinan penggunaan green screen / compositing digital dalam penggabungan adegan
- (Entah) teknologi canggih lainnya dengan penamaan apa, saya kurang memahami dari segi ini,
menjadi fondasi dalam menghadirkan dunia yang imajinatif namun tetap terasa utuh.
Terlepas dari berbagai keterbatasan yang mungkin masih terasa, upaya ini menunjukkan keberanian untuk masuk ke wilayah produksi yang kompleks, sesuatu yang masih terus berkembang dalam industri film Indonesia.
Sebagai karya awal dengan pendekatan teknologi yang cukup ambisius, film ini tentu masih menyisakan ruang untuk penguatan, terutama pada pengembangan karakter (seperti robot yang belum tergarap maksimal), serta dialog yang dalam beberapa bagian belum sepenuhnya mendorong alur cerita bergerak maju dengan smooth.
Namun alih-alih menjadi kelemahan semata, hal ini justru memperlihatkan bahwa film ini adalah bagian dari proses, sebuah langkah berani menuju kemungkinan yang lebih besar.
Imajinasi sebagai Bentuk Harapan Ekologis
Di tengah narasi global yang sering kali pesimis terhadap masa depan bumi, “Pelangi di Mars” menawarkan sesuatu yang jarang diangkat yakni harapan yang lahir dari imajinasi.
Film ini seolah mengingatkan bahwa krisis tidak hanya butuh solusi teknis, melainkan juga membutuhkan keberanian untuk membayangkan dan merestruktur ulang masa depan.
Kelompok robot-robot terbuang yang ada bertualang bersama Pelangi dan Batik pun dapat dimaknai sebagai representasi dari orang-orang yang peduli terhadap lingkungan, sering kali dianggap remeh, tidak penting, atau bahkan diabaikan. Padahal, justru merekalah yang memiliki kesadaran, kepedulian, dan harapan untuk memperbaiki keadaan.
Menariknya, petunjuk menuju Zeolith Omega tidak semata bersifat fisik atau ilmiah saja. Di hadapan sumber Zeolith yang melimpah itu, terdapat hal lain yang lebih besar yang harus dipecahkan oleh Pelangi dan kawan-kawan untuk bisa meraihnya.
Di sinilah lagu yang sejak kecil selalu dinyanyikan oleh ibunya dan masih diingat Pelangi hadir sebagai penuntun. Lagu tersebut bukan sekadar kenangan atau penghibur, melainkan menjadi semacam “kode” rahasia yang membimbing Pelangi untuk bisa mengakses Zeolith Omega yang aktif.
Dalam konteks ini, lagu yang berjudul “Mewarnai Pelangi” tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk folklor. Lagu-lagu masa kecil atau “pamali-pamali” yang menurut kita tak penting nyatanya menyimpan pengetahuan, nilai, dan petunjuk hidup dalam bentuk yang sederhana.
Dalam film ini, lagu yang dinyanyikan Pelangi menjadi folklor kontemporer yang menjembatani masa lalu dan masa depan, seperti memori dan kemungkinan, juga pedoman hidup yang menjaga arah dan keberlangsungan.
Penutup
“Pelangi di Mars” bukan film yang sempurna dalam pembuatannya, namun ia adalah karya yang jujur, berani berimajinasi untuk jadi berbeda, dan berani membuka jalan.
Di tengah dunia yang semakin kehilangan arah, film ini menghadirkan satu pesan sederhana nan penting yaitu bahkan di tempat yang paling jauh dan sunyi, masa depan masih bisa tumbuh. Tidak ada yang tidak mungkin, selama masih ada keyakinan dan usaha nyata.
Terakhir, semoga akan ada banyak Pelangi dalam diri kita yang masih terus berharap dan membantu memulihkan dunia yang menuju hancur ini.
Sekali lagi, selamat ya, Upie, atas karya luar biasanya. Terima kasih atas keberanianmu!
Terima kasih atas persembahanmu untuk anak-anak Indonesia. Kami siap menunggu karya-karya spektakulermu selanjutnya.

Upie Guava,Sutradari Film “Pelangi di Mars”
