Mari Bersinergi menghadapi Krisis dengan Kembali ke Akar

Satu hari setelah kita memperingati Hari Kartini pada 21 April, 22 April kemudian adalah peringatan Hari Bumi. 56 tahun sejak diinisiasi, kita diingatkan lagi bahwa Hari Bumi bukan cuma kegiatan seremonial tahunan saja. Sebab, tentu saja, ini sudah tidak sejalan dengan maksud Gaylord Nelson yang telah menggagas sejak 1969.

Peringatan Hari Bumi tahunan seharusnya menjadi peringatan serius bagi kita semua, makhluk yang berdiam di bumi. Seperti tema tahun ini, Our Power, Our Planet, maka sudah saatnya kita sadar bahwa kekuatan kolektif kita sebagai manusia yang mempunya kendali penuh atas masa depan bumi ini.

Mengapa Menjaga Bumi itu Bisa disebut Kewajiban?

Bumi merupakan satu-satunya rumah dan sistem pendukung hidup yang kita punya. Udara yang segar, air yang layak hingga tanah yang mampu menumbuhkan berbagai makanan adalah aset yang tidak ada cadangannya. Sehingga, menjaga bumi bukan lagi pilihan terbatas atau hobi para aktivis lingkungan, sebab kita tinggal di atasnya lah maka kita harus merasa menjaganya dengan penuh kesadaran.

Secara moral, kita memikul tanggung jawab yang besar. Bumi yang kita pijak dan tinggali saat ini bukanlah warisan, melainkan hanyalah merupakan pinjaman dari masa depan, masa ketika anak cucu-cicit kita nanti akan hidup.

Merusaknya saat ini, entah sengaja atau tidak, adalah tindakan merampas hal hidup mereka kelak. Gejolak cuaca ekstrem dan polusi yang sangat nyata merupakan sebuah sinyal bahwa alam sedang tidak baik-baik saja. Tugas kitalah untuk memulihkannya dengan kekuatan atau power yang kita miliki.

Belajar dari Kartini yang Bergerak dari Akar

Menghadapi dan berada di dalam krisis lingkungan seperti ini kerap membuat kita merasa kecil dan tidak berdaya. Di sini lah agaknya Kartini menjadi sangat penting untuk kita ingat bersama. Dari Kartini, kita belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk diam. Bila dahulu Kartini berjuang mendobrak sekat pendidikan, sekarang kita ditantang mendobrak pola pikir konsumtif yang merusak alam, baik langsung maupun tidak langsung.

Strategi paling masuk akal untuk menghadapi krisis adalah dengan ‘bergerak dari akar’. Sebab perubahan besar tidak akan pernah kokoh jika tidak mulai dari unit terkecil, yakni diri sendiri, keluarga, dan komunitas lokal.

Kembali ke akar artinya mengenali kembali kearifan tradisi dalam mengelola alam, memperkuat ketahanan pangan dari rumah, dan membangun komunitas yang saling menjaga. Inilah wujud nyata dari kedaulatan kita di atas planet ini.

Sinergi Menghadapi Krisis

Krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori belaka. Kita butuh sinergi antara pikiran dan aksi nyata. Melalui penguatan agroekologi dan penghormatan terhadap tradisi ibu bumi, kita bisa menciptakan benteng pertahanan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Gerakan seperti Sekolah Tradisi Ibu dan Sahabat Tradisi ini merupakan salah satu bukti strategi ‘akar rumput’ bisa menjadi solusi yang berdaulat dan berkelanjutan.

Mari jadikan Hari Bumi 2026 sebagai sebuah titik balik. Tidak perlu menunggu kebijakan global turun dari langit untuk mulai bergerak. Gunakan kekuatan kita untuk menyusun strategi dari rumah dan dari kearifan lokal yang telah dan kita punya.

Sebagai langkah nyata untuk lebih dalam mengupas bagaimana strategi ini, mari berbincang lebih dalam di Webinar “Strategi Menghadapi Krisis: Belajar dari Kartini, Bergerak dari Akar” pada Minggu, 26 April 2026 mendatang. Menjaga bumi adalah kerja panjang yang harus kita tanggung bersama, dimulai dari kekuatan akar kokoh milik kita.

Kunjungi instagram @sahabat.tradisi untuk registrasi gratis! 🙂

Tinggalkan komentar