Menelusuri Jejak Budaya Pertanian Indramayu

Untuk menjawab kekhawatiran terhadap ancaman krisi pangan di depan mata ternyata budaya adalah jawabannya. Berangkat dari keyakinan bahwa dengan melestarikan budaya, alam dapat dipertahankan dan pangan dapat berdaulat mengikutinya.

Mengenal Budaya Pertanian Indramayu

Indramayu sebagai lumbung padi terbesar di Jawa Barat nyatanya masih mempertahankan budaya pertanian itu dengan baik. Sayangnya  regenerasi untuk pelestarian budaya pertanian ini masih minim.

Sehingga saatini tradisi-tradisi pertanian yang selaras alam itu mulai ditinggalkan dan hilang.upaya untuk menelusuri kembali budaya yang hilang dilakukan sebagai upaya mengembalikan lagi budaya pertanian leluhur ke tempatnya untuk dikaji dan dijabarkan secara keilmuan.

Riset ini sebagai langkah sistematis untuk meminimalisir kemungkinan reisko-resiko negatif yang timbul saat hasil riset kembali diimplementasikan.

Sepanjang riset dilakukan di Indramayu, terdapat beberapa kearifan lokal pertanian yang ditemukan seperti  Bugana, Sedekah Bumi, Sambetan, Bogbogneng, Mapag Tamba, Mapag Sri dan Unjungan.

Bugana misalnya meruakan kearifan lokal yang dilakukan sebagai wujud syukur dan penghargaan terhadap bumi. Dilakukan sebelum masa tanam agar kelak yang diberikan kepada bumi kan kembali sebagai panen berlimpah. Bugana menjadi penanda dimulainya masa tanam.

Ada pula Sambetan yang dilakukan sebagai upaya tradsional etani dalam menanggulangi hama dan penyakit pada padi. Untuk menjaga kelestarian alam ada masa lalu orang tua tidak membasmi hama dengan pestisida kimia tetapi dengan metode kearifan lokal seperti Sambetan.

Sambetan dilakukan dengan cara menyabetkan air ke badan padi. Ritual ini menggunakan material air leri, kunyit,dan  daun-daunan.

Petani sudah muter bentangan, muter ga lengan, sambil sabetan. Pantangannya adalah yang melakukan tidak boleh bicara dan harus belok ke kiri.

Sedekah Bumi, juga merupakan ritual pertanian selaras alam. Kegiatannya berupa penyembelihan kambing hitam. Kepala kambing dipendem di area kepala desa sementara kakinya di pendem di setiap sudut desa yang berbatasan dengan desa lain.

Sedekah bumi dilakukan sebagai bentuk penghargaan karena kita hidup dari hasil bumi. Sedekah bumi harus dilakukan pada hari Rabu di bulan apa aja dan tidak mengikat rabu di penanggalan jawa.

Perhitungan itu ditentukan terperinci karena adanya rentetan tradisi adat berikutnya di hari Rabu lainnya. Dimana biasanya Rabu berikutnya digelar ritual adat desa Bogbogneng. Bogboneng adalah kirab pusaka yang dikeluarkan dari desa dilakukansebagai bagian dari rangkaian musim tanam.

Bogbogan dianggap juga sebagai simbol bersih-bersih lingkungan membuang berbagai macam hal kotor agar masa tanam akan lancar.dan barang pusaka biasanya melewati beberapa ritual seperti Nangekaken pusaka, diadusi dan dituruaken (disimpen lagi).

Selain itu ditemukan juga sistem pertanian tradisional yang sangat menarik  warisan leluhur masyarakat setempat yakni metode bertani dengan memerhatikan curah hujan. Kearifan lokal membaca siklus alam ini juga berkaitan dengan sistem penanggalan Pranata Mangsa atau Titen.

Dahulu para petani menggunkan perhitungan Pranata untuk menentukan hari baik untuk menanam. Di desa yang tim riset Nusantara Code kunjungi para petani akan mulai menanam pada seni dan kamis.

Tak hanya tentang sistem dan metodologinya. Selama perjalan menyusuri berbagai wilayah di Indramayu ditemukan pula folklor berupa legenda yang disebut “Baridin”. Folklor Baridin dikuatkan dengan adanya situs yang terdapat di perbatasan antara Indramayu dan Cirebon.

Tim Riset Nusantara Code Indramayu mencoba berkeliling menemui berbagai narasumber untuk menggali lebih dalam tentang bagaiaman para orang tua dahulu melakukan pertanian yang selaras alam. Mulai dari wilayah pesisir hingga ke kampung yang jauh di bukit semua disambangi demi menemukan apa yang kami cari.

Tidak menafikan pergeseran budaya. Kita tidak meninggalkan, tatanan budaya yang sudah dilakukan nenek moyang kami. Tidak membuang. Ketika datang budaya baru. Budaya sebagai solusi untuk acaman krisis pangan dan budaya.

Tinggalkan komentar