Kisah Agak Laen Dari Balik Buku Manifestasi Folklor Dewi Padi Karya Wulansary

AGAK LAEN EMANG….

Manifestasi Folklor Dewi Padi, memang bukan buku pertama saya, ada beberapa buku yang sudah saya tulis. Tapi yang ini agak laen emang…

Pertama, buku ini bukan buku orderan pihak lain seperti yang sudah pernah saya tulis sebelum2nya.
Buku ini murni bentuk manifestasi diri saya, apa yang menjadi concern saya, apa yang menjadi kegelisahan saya dan apa yang saya miliki sebagai asset intangible diri saya.

Sebagai sarjana Antropologi, saya merasa terpanggil menghidupkan lagi folklor dalam hakikatnya yang terdalam, yaitu media edukasi lintas generasi.

Meski saya mendengar suara miring, baik yang didengungkan di belakang saya, maupun dengan santun menegur saya,secara langsung. Baik dari kalangan kerabat sesama antropolog, maupun dari senior-senior, mereka seraya berujar “buat apa bicara folklor? itu produk masa lalu. Kita harus fokus pada masa depan, Lan. Gak ada gunanya apa yang kamu kerjakan”.

Saya tetap tersenyum dan terus melangkah, seraya menjawab, “Nggak papa, setidaknya saya menuntaskan penasaran saya yang berbentuk hipotesa bahwa, folklor kita belum tergali mendalam, masih ada pesan-pesan yang tersisa, yang harus didapatkan. Pesan-pesan yang justru penting bagi masa depan. Saya setuju bahwa kita harus menyiapkan masa depan, tapi tidak bisa tanpa dasar/pijakan yang tepat. Dan pijakan itu masih tersisa dan tersimpan rapi dalam folklor.”

Dan pijakan itu sebagiannya saya temukan dan tuliskan dalam karya yang agak laen ini 🙂 🙂 🙂

Buku ini, hanya sebagian dari desain kerja kami dalam tim Nusantara Code. Yang desain kerja itu, Alhamdulillah didukung oleh Dirjen Kebudayaan RI, lewat Dana Indonesiana / Dana Abadi Kebudayaan. Tentu melegakan dan membuat kami semua semangat.

Sekedar berkisah saja, sebagai refleksi langkah sebelumnya…. Sebelum mendapat pendanaan untuk desain program yang lebih besar, saya pun sempat ditertawakan oleh seorang tokoh, setelah saya mempresentasikan gagasan saya dan mengajak beliau dan asoosiasinya turut serta jadi bagian pergerakan ini.
Katanya : “Gagasan kamu terlalu bagus untuk direalisasikan Wulan, gak masuk akal… gak mungkin!”
Saya : “Kenapa tidak?”
Katanya : “Ini kerja banyak orang gak mungkin kita lakukan sendiri”
Saya : Oh iya, tentu saya tahu, makanya saya ajak Ibu dan asosiasi di belakang Ibu.
Katanya : “Nggak mungkin Lan, ini kerja panjang, impossible”
Saya : “Saya tahu Bu, makanya harus dimulai, kalau tidak maka, kita terlambat. Dan harus ada yang memulai”.
Katanya : “Ya sudah, kalau kamu yakin bisa, silahkan kamu jalan, kalau berhasil, kamu bilang saya ya, nanti saya bantu”.

Hahaha…. itu bahan bakar penyemangat yang sungguh luar biasa. Justru ketika gagasan kita diremehkan, maka di situ kita tertantang untuk bisa membuktikan, bahwa kita tidak main-main dengan apa yang kita yakini.

Saya yakin, bahwa Indonesia tidak mungkin merdeka tahun 1945, jika pada tahun 1928 tidak ada Sumpah Pemuda. Dan tentu sebelumnya ada pergerakan untuk ke arah situ.

Kembali ke karya Buku Manifestasi Folklor Dewi Padi, agak laen emang… seperti yang saya sebut di atas.

Saya memilih penerbit Yayasan Peneleh Jang Oetama, karena saya melihat di sana juga ada pergerakan yang sevisi,
Jadi… kerja keras ini, saya persembahkan untuk saudara-saudara sebangsa setanah air yang bergerak mewujudkan cita-cita negri kita yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Hasil penjualan buku sepenuhnya menjadi dana gerakan. Bismillah… Insya Allah jadi manfaat.

Satu keabadian saya terlahir….

Buku ini bisa didapatkan di google book, bisa juga lewat website penerbit maupun di website www.sahabatbumi.id

jika ingin versi digital bisa ke : https://play.google.com/store/books/details?id=aLr4EAAAQBAJ

Tinggalkan komentar