Combo! Kebakaran TPA Sari Mukti di Cipaatan kabupaten Bandung Barat berakibat fatal pada lingkungan. Tak Cuma berdampak pada menumpuknya sampah di wilayah Bandung raya tapi juga polusi udara bagi warga sekitarnya.
Bila mengingat tragedi longsornya TPA Leuwi Gajah tahun 2005 silam. Penyebab kejadian tersebut adalah meningkatnya konsentarsi gas metana pada gunungan sampah yang diguyur hujan seharian penuh yang mnyebabkan ledakan besar.
Dari kejadian tersebut nyatanya kedisiplinan masyarakat masih belum sepenuhnya dilakukan. Mengutip dari laman pemprov Jabar, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil nenyampaikan informasi bahwa gunungan sampah terbakar konon diakibatkan karena puntung rokok.
Ketinggian sampah di TPA Sarimukti mencapai 50 meter nyaris serupa dengan TPA Leuwi Gajah yang mencapai 60 meter. Luasnya area terbkar dengan ketinggian 50 meter serta kandungan gas metan yang tinggi menyebabkan api kesulitan dipadamkan. Akibatnya asap terus membumbung semakin pekat mencemari udara.
Warga sekitar TPA mulai merasakan sesak nafas dan mata pedih akibat kabut asap kebakaran yang telah mencemari udara. Nyaris sepekan bara api di gunungan sampah tak kunjung padam meskipun pemerintah provinsi Jawa Barat telah menerjunkan bantuan unit pemadam kebakaran.
Akibatnya TPA Sarimurti ditutup dan tidak bisa dioperasikan dalam waktu dekat ini. Pengiriman sampahpun tersendat, sekitar 118 unit truk sampah gagal mengirimkan sampah ke TPA Sarimukti dan harus kembali ke TPS masing-masing dengan membawa kembali sampah. Truk-truk sampah tersebut merupakan armda sampah yang berasal dari wilayah Bandung Raya yakni kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan kota Cimahi.
Sebagai tindakan preventif pemerintah kota Bandung melalui PLH Walikota Bandung Ema Sumarna menginstruksikan agar sementara waktu sampah-sampah dari pemukiman masyarakat dibuang dan diolah di TPS wilayah masing-masing. Selain itu himbauan untuk warga Bandung agar menekan limbah rumah tangga serta optimalisasi serta pengefektifan Kawasan Bebas Sampah (KBS).
