Roadshow Nusantara Code menyambangi kota mangga Indramayu. Sebagai wilayah penghasil beras terbesar di Jawa Barat rasanya tak elok bila melewatkan kota Indramayu sebagai salah satu kota persinggahan roadshow Nusantara Code berikutnya.
Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Nusantara Code memegang data bahwa Indramayu merupakan peringkat teratas kabupaten / kota penghasil produksi padi tertinggi pada tahun 2022. Setelahnya diikuti kabupaten Karawang di peringkat kedua dan Kabupaten Subang di peringkat ketiga.
Nusantara Code bersama para penggerak dan beberapa komunitas di daerah Indramayu Minggu siang melakukan konsolidasi untuk menyolidkan kegiatan yang akan berlangsung dalam dua hari kedepan. Konsolidasi dilakukan sebagai starting movement gelaran roadshow Nusantara Code di kota Indramayu.
Sambil menikmati santap siang di resto Mangga yang sejuk, tim Nusantara Code dan perwakilan komunitas petani di Indramayu berdialog tentang sepak terjang para penggagas komunitas pertanian di Indramayu serta berbagi pandangan tentang perkembangan pertanian di kota mangga ini.
Menariknya dari konsolidasi dengan suasana santai kekeluargaan ini ditemukan fakta bahwa masyarakat petani Indramayu juga masih ada yang menggunakan sistem perhitungan masa tanam Pranoto mongso atau Pranata Wasa dalam bahasa di indramayu. Yaitu sistem tanam dengan memperhatikan keadaan alam seperti misalnya mengamati arah angin untuk menentukan titi mangsa kapan mulai bercocok tanam. Hal ini dilakukan juga oleh Komunitas Petani pemerhati curah hujan di indramayu.
Biasanya musim tanam akan dimulai pada musim angin selatan sekitar bulan Juli- Agustus. Pada saat yang sama secara astronomi, saat itu adalah waktu dimana rasi bintang orion muncul. Rasi bintang yang kerap digunakan para petani terdahulu dalam menentukan kapan mulai bercocok tanam.
Malam harinya bertempat di balai desa Kongsijaya Kecamatan Widasari Indramayu diadakan pemutaran film Nusantara Code dilanjutkan diskusi hingga larut malam.
Acara nonton bersama dan diskusi film Nusantara Code dihadiri oleh langsung Kabid Ketpang DKPP Imam Mahdi, Kuwu atau Kepala Desa Konsijaya dan perwakilan BPK Mendikbudristek Ibu yang secara khusus meluncur dari kota Bandung untuk memantau agenda roadshow Nusantara Code di Indramayu.
Selain itu juga hadir anggota dan pengurus berbagai komunitas petani di Indramayu seperti Komunitas Petani Ramah Lingkungan (KOPRAL), Serikat Petani Indonesia (SPI) kabupaten Indramayu, Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Kongsijaya, Komunitas Pemerhati Curah Hujan, Komunitas Pemuda Pelopor 2001 hingga mahasiswa IPB yang kebetulan sedang melakukan KKNT di Indramayu.
Sebagai kota agraris dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Petani Indramayu kini juga mulai beralih ke pertanian sehat atau pertanian selaras alam. Perkembangan ini sejalan dengan misi Nusantara Code yang ingin menghadirkan kembali pertanian selaras alam yang berbasis kebudayaan.
Dalam sesi diskusi aktif berbagai pandangan disampaikan oleh peserta acara. Sebagai penggagas Nusantara Code Wulansary menyampaikan “petani itu sangat pintar karena mampu mengerti ilmu biologi, ilmu matematika bahkan hingga ilmu astronomi. Hanya saja gerakan pertanian selaras alam berbasis budaya. Maka diperlukan para penggerak di wilayah untuk membuat Nusantara Code bergaung yang nantinya akan bermuara kepada kebijakan pemerintah.” jelasnya dalam pembukaan diskusi.
Hal yang sama diamini oleh redaksi program media online Kalpatara Lisa Sastrajendra bahwa Nusantara Code telah menyiapkan seluruh skema untuk mewadahi kegiatan Nusantara Code.
Yazid Bustomi dari Gapoktan Kongsijaya mengutarakan pendapatnya bahwa budaya tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Bahkan budaya ceblokan di Indramayu yang identik dengan gotong royongpun memerlukan teknologi untuk bisa menyelesaikan pertanian. “teknologi hadir bukan untuk menggantikan budaya, tetapi budaya itu yang akan mengikt teknologi lewat rasa dan karsa” ujarnya.
Menutup diskusi sebuah sentilan bermakna dalam dilontarkan oleh CEO TRB Dhimas Driessel “ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, siapa disini orang tua yang ingin anaknya menjadi petani? Bahkan petaninya sendiri pun tidak mau anaknya menjadi petani.”
Lebih lanjut Dhimas berbicara “jadi petani bisa pake mercy, kata siapa petani tidak bisa beli mercy. Ayo petani muda kita lakukan. Jangan khawatir” ujarnya diakhiri tepukan riuh pesesrta nobar diskusi Nusantara Code.
Hari pertama rangkaian kegiatan Nusantara Code di Indramayu berlangsung hingga tengah malam dan akan dilanjutkan di hari kedua dengan workshop indoor sehari penuh.
