Mengenal Manisfestasi Foklor Dewi Padi Kajian Gerakan Nusantara Code

“Folklor merupakan media penyimpan pesan dengan cara yang holistik yang diciptakan oleh leluhur bangsa Indonesia. bagaimana memahami folklor yang sebenarnya adalah tentu kita harus memahami cara berfikir yang menciptakannya, yaitu leluhur kita” Wulansary membuka paparan kajiannya dalam kesempatan webinar “Manifestasi Folklor Dewi Padi” Rabu 21 Juni 2023 lalu.

Mengkaji soal folklor nusantara sebagai agroekologi asli Indonesia. Menguak tentang keilmuan para leluhur dalam tata cara pertaniannya. Kekayaan leluhur ini kemudian mencoba ditawarkan untuk mengatasi ancaman krisis pangan sekaligus krisis budaya yang terjadi saat ini.

Kajian yang difasilitasi oleh kementrian pendidikan lewat Indonesiana dan lpdp ini menguak simbol-simbol kearifan lokal tentang keberlanjutan pangan Indonesia. Serta mendapatkan dukungan penuh dari kepala laboratorium Supriyanto yang merupakan Senior Affilate Scientis Natural Product Laboratory SEAMEO BIOTROP untuk mengungkap adanya keterkaitan antara budaya, teknologi dan pertanian.

Berangkat dari keresahan terhadap ancaman krisis pangan dan krisis identitas budaya yang yang semakin nyaring terdengar saat ini utamanya pada generasi muda, membuat Wulansary bergerak melakukan kajian terhadap keterkaitan antara budaya dan teknologi dari sisi pertanian selama 4 tahun kebelakang. “harus ada solusi untuk ancaman ini” ujar Wulansary saat memaparkan alasannya di penelitiannya. 

Saat ini folklor bagi sebagian masyarakat dianggap tidak relevan, tidak logis maupun usang. Menurut Wulansary, folklor dewi padi merupakan media pesan leluhur yang dibalut lewat simbol-simbol agar tidak sembarangan orang dapat mengakses pesan tersebut. Pesan ini dianggap begitu penting sehingga harus disembunyikan. Untuk bisa memecahkan kode-kode tersebut maka dibutuhkan pemahaman bagaimana cara berfikir penciptanya dalam hal ini para leluhur.

Sejak 2019 Wulansary secara intens mencermati masalah ini sebagai bahan penelitiannya. terdapat  hubungan erat antara alam dengan pesan folkor tersebut. Bahkan telah diketahui secara global pada akhirnya di tahun 2018 lalu badan pangan dunia FAO menerima agroekologi  dalam simposium pangan internasional sebagai salah satu solusi untuk mengatasi ancaman pangan dunia.

Agroekologi adalah media bercocok tanam berbasis kultur dan kontur. Sementara di Indonesia akibat revolusi hijau pada masa orde baru lalu Indonesia hampir membuat sistem agroekologi hampir punah.

Para leluhur bangsa Indonesia telah melakukan kegiatan bercocok tanam dan pertanian selama ratusan tahun lamanya. Penemuan hasil kajian selama empat tahun berbentuk data dan ritual maka ditemukan bahwa detail pertanian dimana bertani bukan hanya kegiatan soal menanam dan memanen tetapi terdapat banyak keilmuan bahkan dalam proses menyiapkan hingga usai panen. Seluruh hasil data penelitian yang didapat selama melkukan kajian kemudian dituangkan secara ilmiah oleh Wulansary. Maka kemudian Folklor sangat penting relevan untuk saat ini. Karena apa yang dilakukan leluhur logis dengan keilmuan yang ilmiah.

Kajian manifestasi folklor dewi padi menggunkan metode transdisipliner yang melibatkan banyak ahli dan pakar dari berbagai latar belakang bidang keilmuan. Dengan menggunakan metode transdisipliner dimana pendekatan berbagai bidang keilmuan yang melepas berbagai batasan keilmuan. Para ahli budaya bekerja sama dan berkolaborasi untuk menemukan pemahaman yang lebih holistik.

Dewi Padi menjadi entry point penelitian ini karena Wulansary meyakini bahwa folklor tentang dewi padi ini ada di seluruh indonesia meski dalam penelitiannya baru 4 wilayah yang didalami yaitu Wajo, Baduy, Trawas dan Bali. Dalam penelitiannya Wulansary menemukan fakta bahwa nama dewi sri memiliki penyebutan berbeda di setiap daerah. Di Baduy disebut Nyai Pohaci Sangiang Asri, di Trawas Jawa Timur disebut Mbok Rondo Kuning, di Pedawa Bali ada Dewi Sri, dan di Wajo Sulawesi Selatan ada  Sangiang Serri.

Untuk mendapatkan data dalam mengeksplor keempatnya maka terlebih dahulu mendapatkan pengetahuan adat. Keempatnya ternypada penemuannya didapatkan fakta bahwa para leluhur bangsa Indonesia pada masa itu telah berpikir holistik, memikirkan berbagai aspek kehidupan atas, tengah dan bawah lewat keyakinan Trinitas. Keyakinan bahwa manusia semestinya hidup berdampingan selaras dengan Tuhan, sesama dan alam. Metode leluhur di Indonesia juga ternyata lebih lengkap dan memiliki pemahaman yang berkelanjutan jauh lebih lama dibandingkan teknologi pertanian yang diadopsi dari bangsa lain saat ini.

Manifestasi Dewi Padi bukan hanya sebagai budaya tapi juga memiliki nilai-nilai pendidikan karakter yang mengikat lelaku hidup masyarakat. Untuk mengungkapakan adanya kerkaitan antara budaya dengan pertanin, dibutuhkan penggiat pertanian dan budayawan serta berbagai manifestasi ilmunya untuk membedah tentang folklor dewi padi lewat kode-kode yang ada di berbagai daerah di nusantara . 

Melalui kajian yang dilakukan di Kanekes, Trawas, Wajo dan Bali dapat disimpulkan bahwa  keraifan lokal sangat tak hingga, teknologi dapat dilakukan dengan menjembatani masalah dan menemukan solusi.  The power of scients is the ability to say something without having to say everrything(Mooris, 2008).

Tinggalkan komentar