Nusantara Code Adalah Pekerjaan  Antropologis

Nusantara Code adalah judul sebuah film semi dokumenter yang menggali tentang  folklor pertanian Dewi Padi faktanya merupakan sebuah kerja antropologis. Mulai dari film. kajian hingga melahirkan gerakan 7 kota dapat dikatakan pekerjaan antropologis.

Film Nusantara Code bercerita tentang detektif muda bernama Padi yang mendatangi tiga wilayah nusantara yakni desa Trawas Mojokerto, Yogyakarta dan Baduy Banten untuk mengungkap folklor-foklor yang ada di masyarakat pertanian di wilayah tesebut.

Seperti halnya cara kerja antropologis tim Nusantara Codet turun ke lapangan untuk melakukan observasi wawancara dengan pendekatan etnografi. Etnografi adalah memotret kondisi masyarakat sebagaimana adanya sesuai budayanya masing-masing.

Dalam prosesnya Yang dipotret kondisi pertanian secara holistik atau menyeluruh. Dalam hal ini nusantara code memotret kondisi pertanian yang ada di setiap lokus penelitian secara holistik (menyeluruh), yang sekarang ada dan yang dulu pernah ada.

Slide 3 : apa saja yang dipotret dengan pendektan etnografi: 7 unsur kebudayaan(koentjaraningrat) : 1. sistem kepercayaan/religi,4. bahasa, 5.kesenian, 6.mata pencaharian,sistem sosial, 2.sistem dan organisasi kemasayarakatan dan 3.  ilmu pengetahuan dan 7. Teknologi dan peralatan

1. sistem kepercayaan/religi

2. sistem dan organisasi kemasayarakatan

3. ilmu pengetahuan

4. bahasa

5.kesenian

6.mata pencaharian dan sistem sosial

7. Teknologi dan peralatan

Selain itu Nusantara Code juga memotret objek lain berupa tiga wujud kebudayaan yaitu sistem ide (ideas), aktifitas/perilaku  dan Artefak(fisik/material).

Nusantara Code sebagai pekerjaan antropologis memilih pintu masuknya melalui folklor. Dalam hal ini folklor Dewi Padi. Folklor adalah salah ssatu mata kuliah di ilmu antropologi.

Dikutip dari berbagai literasi Folklor memiliki beberapa pengertian. Dalam kamus besar bahasa Indonesia folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat.

Seorang antropolog Indonesia James Danandjaja menyebutkan sebagian Kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.

Bentuk yang memiliki tata krama, adat istiadat, ketaatan, peribahasa, dari masa lalu, dan diregenerasikan melalui teks oral. Willian Thoms  (Alan Dundees, The Study of Folklore, p. 33)

Folklor  juga dapat merujuk pada setiap kelompok orang, yang terdiri dari satu faktor umum, yaitu yang   menjadi dasar untuk menghubungkan mereka, dan di dalamnya memiliki beberapa tradisi yang disebut dengan cara mereka sendiri.

Maksud dari Alan Dundes bahwa ada faktor fundamental yang akhirnya melahirkan suatu ikatan kolektif dalam suatu masyarakat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan. Macam-macam foklor terdapat tiga kategori folklor yakni foklor lisan, sebagian lisan dan bukan lisan.

Foklor lisan contohnya cerita rakyat, mitos, lagu daerah, pantun, petuah, dan lain-lain. Sebagian lisan adalah seperti  ritual adat pertanian, pernikahan dan pantangan adat dan lain-lain. Sementara folklor bukan lisan contohnya rumah adat, alat pertanian, seni wastra, ukiran, artefak dan lain-lain.

Sebagian temuan kajian dari kajian tim Nusantara Code  berupa folklor lisan adalah isuk tandur sore panen, sebagian isan berupa ritual pangepik yakni cara mengusir hama dari daerah Wajo Sulawesi Selatan. Selain menemukan folklor lisan dan sebagian lisan, Nusantara Code juga menemukan folklor bukan lisan seperti arsitektur leuit baduy Banten dan ukiran adat.

Seluruh perjalanan tersebut tertuang adalam buku berjudul Manifestasi Folklor Dewi Padi karya founder Nusantara Code Wulansary yang bisa didapatkan di web Sahabatbumi.id. Tujuan  sekaligus harapan kerja antropologis Nusantara Code adalah membawa dampak besar Indonesia berdaulat pangan.

Tinggalkan komentar