Nasi liwet merupakan salah satu pangan lokal asal budaya Sunda. Nasi liwet juga telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda yang harus dilindungi.
Nasi liwet memiliki citarasa yang gurih dan aroma yang khas. Liwet adalah sebutan cara memasak nasi tanpa ditanak. Beras yang telah dicuci bersih langsung dimasak menggunakan alat khusus yang disebut kastrol.
Nasi liwet memiliki ciri khas menghasilkan kerak nasi dibagian paling bawah membentuk wadah kastrol. Kerak nasi liwet ini biasa diolah menjadi kerupuk kerak. Aroma dan rasa nikmat nasi liwet sunda berasal dari bumbu rempah seperti bawang merah, batang serai, daun salam.
Yang unik dari nasi liwet sunda adalah ikan asin peda merah atau teri yang dimasak bersamaan dengan berasnya.Nasi liwet biasa disajikan dengan aneka lauk seperti tahu, tempe, ayam goreng, ikan asin, lalab sayuran mentah dan sambal terasi.
Nasi liwet memiliki makna filosofi yang menarik. Nasi liwet berwarna putih yang melambangkan kemurnian serta prasangka baik. Nasi liwet juga merupakan gambaran sifat gotong royong dan kebersamaan masyarakat Indonesia karena kerap disantap bersama-sama.
Nasi liwet yang disajikan menggunakan daun pisang bermakna kesederhanaan dalam menjalani hidup.
Dikutip dari Indonesiakaya.com asal usul nasi liwet telah tercatat dalam naskah kuno Serat Centhini tahun 1819 M. Serat Centini merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru yang ditulis pada 1814 – 1823 M.
Nasi liwet kerap hadir dalam berbagai kegiatan berkumpul seperti botram atau munggahan menjelang bulan puasa datang.***
