Petani Jombang Sukses Budidaya Pangan Lokal Alternatif Kentang Udara

“Air Potato” atau Kentang Udara memiliki nama latin Dioscorea Bulbifera. Kentang udara merupakan tumbuhan serupa kentang yang banyak tumbuh dengan umbi kentang berada di dalam tanah, dan berada merambat di udara sehingga terdapat buahnya yang keluar dari ketiak daun (bulbil).

Kentang udara sebenarnya tidak termasuk keluarga kentang melainkan dari keluarga umbi-umbian jenis gadung, Suku Dioscoreceae. Di daerah Jawa kentang jenis ini disebut Gembolo.

Tanaman Kentang udara adalah tumbuhan perdu semusim yang merambat, searah jarum jam, yang dapat mencapai ketinggian 3-10 m serta dapat menghasilkan umbi dari batang yang ada di permukaan.

Umbi ini disebut “umbi udara” atau “katibung”, umbi ini dapat dikonsumsi, dan dapat dijadikan sebagai pangan alternatif. Umbi udara juga dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan vegetatif.

Bu Fat seorang petani Jombang mengisahkan bagaimana awal mula Bu fat menekuni pertanian pangan lokal alternatif kentang udara. Menurut Bu Fat, tardisi keluarga mempengaruhi arahnya sebagai seorang petani.

“Saat dulu, nenek saya suka umbi-umbian, nenek sawahnya banyak sering didongengkan soal pertanian. makanya saya suka dan menekuni tanaman pangan ini.” uja Bu Fat pada koresponden Sahabat Bumi.

Terinspisari dari nenek dan ayahnya yang suka konsumsi umbi. Bu Fat kemudian perlahan berlih dari menanam bunga menjadi menanam umbi dan rimpang. Sebagai pendukung pertanian sehat Bu Fat juga kerap mengikuti pelatihan pertanian organik. Mulai dari praktek cara fermentasi hingga pasca produksi.

Sebagian masyarakat di sekitar tempat tinggalnya sempat bingung dan under estimate manakala Bu fat memilih membudidayakan kentang udara dan talas jepang. Tetapi Bu Fat memilih terus maju dengan harapan suatu saat hasil panen kentang udaranya akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar terutama yang memiliki masalah kesehatan diabetes.

Selain itu kentang udara juga memiliki kandungan kolagennya yang bisa membantu mencegah jantung, diabetes, glikemia, dan buyuteun atau kondisi gemetar yang biasa terjadi pada orang tua usia lanjut.

Di daerah Jawa Timur masyarakat mengenalnya dengan nama Glembo. Kentang udara memiliki 4 varietas yakni yang berkulit halus berwarna cokelat daging umbi berwarna putih kekuningan ada yang bisa dimakan dan tidak. Serta yang berkulit kasar berwarna ungu gelap dan daging umbinya juga ungu yang bisa dimakan dan tidak.

Menurut Bu Fat cara membedakan yang bisa dimakan dan tidak hanya dengan cara dicicip. Jika pahit maka tidak bisa dimakan. Membudidayakan kentang udara tidak terlalu sulit karena tanaman pangan lokal ini bisa ditanam bisa disemua mdpl.

Kentang udara merupakan pangan lokal asli Indonesia yang telah ada sejak zaman penjajahan Jepang. Dahulunya kentang udara digunakan untuk ketahanan pangan  tentara jepang dan ditanam di gunung Manoreh.***

Tinggalkan komentar