Mengenal Sosok Siti Fatimah petani perempuan Inspiratif dari Jombang, Jawa Timur yang berdaya dan memberdayakan masyarakat sekitarnya dengan pertanian selaras alam.
Saat mengikuti aktifitasnya sepanjang hari kita akan mengetahui bagaimana perempuan kelahiran Jombang, 08 Januari 1979 ini sangat mencintai pertanian sehat. Selain menggarap sawah dan ladangnya Bu Fat begitu ia akrab disapa juga aktif menjadi penggerak warga di sekitarnya sebagai mentor pertanian sehat dan tenaga pendidik di pondok pesantren.
Ketertarikannya pada aktifitas pertanian organik bermula karena kedekatannya dengan sang nenek yang sangat menyukai umbi-umbian. Sejak kecil Bu Fat sering diajak ke lahan terutama saat panen. Sambil menunggui hasil panen Bu Fat kerap mendengarkan berbagai dongeng tentang pertanian maupun sejarah nusantara.
Di masa muda Bu Fat telah berkutat dengan aktifitas mengajar dan bertani. Ia menyalurkan hobi bercocok tanam dimulai dari sekitar pondok pesantren tempatnya mengajar. Beralih dari bercocok tanam berbagai bunga Bu Fat lalu beralih menyulap lahan kosong pondok yang tak terpakai menjadi ladang sayuran dan palawija di sela-sela rutinitasnya mengajar para santri.
Menurutnya melihat pemandangan hijau di sekitar pondok pesantren membantunya menyegarkan mata sehingga energi dan perasaan jenuh setelah mengajar dapat kembali pulih. Selain itu aktifitas bertani di sekitar pondok secara langsung merupakan implementasi dari isi kitab yang dipelajari para santri.
“Habis ngajar bertani, di sela waktu ngajar bertanam di sekitar pondok. Kan ada di kitab merawat bumi, merawat alam. Jadi santri gak cuma materi tapi langsung dipraktekan” kenangnya.
Setelah menikah Bu Fat memilih mengikuti suami hijrah ke Jawa Timur dan mengakhiri mengajarnya di salah satu pondok di Pati, Jawa Tengah. Meski begitu jiwa berbaginya tak pernah padam. Sekarang Bu Fat menjadi motor penggerak kaum perempuan di sekitarnya mulai dari ibu-ibu masjid komplek sekitar rumah hingga ke komunitas perempuan dengan lingkup lebih besar.
Bu Fat menekuni pertanian organik didasari dengan banyak keilmuan yang didapat dari banyak guru besar baik dalam dan luar negeri. Banyaknya ilmu tidak membuat Bu Fat jumawa melainkan secara sukarela ia berbagi ilmu dan mengajari ibu-ibu desa di wilayah Jombang tentang kiat pertanian organik.
Diantara banyaknya tantangan pertanian selaras alam yang lebih dikenal dengan istilah pertanian organik, menurutnya sebenarnya pertanian organik tak sulit dan mahal yang dipikirkan banyak orang, karena sebenarnya pertanian sehat sesungguhnya adalah pertanian selaras alam dari alam kembali ke alam.
Konsisten menjalani sistem pertanian selaras alam selama puluhan tahun Bu Fat menyatakan kesuburan lahan adalah kunci utama produktifitas pertanian yang baik. Caranya adalah memperbaiki tanah yang telah terpapar residu kimia harus dikembalikan dengan menggunakan bahan-bahan alam.
Menurutnya kunci utama produktifitas yang baik adalah lahan. Jika lahan sudah subur maka hasil produksi akan meningkat. Maka pangkal dari semua kegiatan pertanian organik adalah suburkan dulu tanahnya.
Pemanfaatan maksimal yang disediakan alam membuat Bu Fat menemukan ‘rumus’ mempraktikan pertanian selaras alam tanpa biaya produksi yang mahal. “pertanian organik itu, suburnya tanah dari Rojo Koyo, Rojo Koyo itu kan hewan, seperti ternak, itu kan ada kohenya. Kita manfaatkan, kita kembalikan ke alam” terang Bu Fat.
Lebih lanjut Bu fat menjelaskan dari kohinya yang diproses perut hewan ternak mengandung pupuk dikembalikan lagi ke lahan. Sebelum dikembalikan ke lahan dispray terlebih dahulu menggunakan cairan hasil fermentasi kulit buah-buahan.
Berbagai cairan seperti air kelapa, air cucian beras, kulit buah, rumput, dan bahkan air hujan dapat menjadi bahan pembuatan pupuk. Proses pembuatannya memerlukan waktu sekitar 7 – 21 hari untuk bisa digunakan sebagai pupuk.
Berguru pada profesor dari Jepang CEO Manda Fermentation yang berhasil membuahkan kurma terbesar di Asia, Bu Fat memegang sebuah formula dimana kuncinya adalah alkali. Ditilik dari sisi keilmuan semua mahluk hidup membutuhkan alkali. Baik manusia, hewan hingga tanaman semua butuh alkali. Maka bagi Bu Fat sebisa mungkin membuat alkali sendiri.
Ia memberikan kiat bahwa salah satu kunci pertanian selaras alam tidak mahal produksi adalah jangan sampai membeli alkali. Bu Fat mencontohkan dari 1kg buah jeruk dapat dihasilkan sekitar alkali 20 liter. “jangan remehkan itu. Jangan dikira jeruk gak ada manfaatnya” ujar Bu Fat.
Selain itu kotoran hewan juga dijadikan menjadi media tanam. Menurutnya kesuburan lahan gunung ke lahan tandus juga ada resepnya masing-masing. Bahkan penemuan terbaru pupuk juga bisa dihasilkan dari rumput yang dilumat manual menggunakan tangan.
“Pupuknya dari rumput diremet pake tangan dan air lima liter untuk lahan satu hektar cukup. Tidak perlu semuanya harus beli” ujar Bu Fat.
Kepedulian Bu Fat pada kesejahteraan petani terlihat dari bagaimana ia gigih berbagai ilmu pada petani di wilayahnya. Berbagai pelatihan ilmu pertanian selaras alam dikejar agar dapat ia teruskan kepada warga di sekitarnya. Bahkan Bu Fat tanpa menyerah terus mengikuti pelatihan pertanian organik hingga tengah malam meski pada saat itu tengah memiliki seorang balita.
Tak Cuma mengajarkan orang-orang disekitarnya tentang bagaimana cara mengolah lahan yang baik, fermentasi dan sistem pertanian organik, Bu Fat juga merupakan petani yang sukses mengembangkan pertanian berbagai alternatif pangan lokal yang kurang familiar seperti kentang udara dan talas Jepang.
Dibawah inisiasinya Bu Fat bersama puluhan ibu-ibu pengajian di Jombang berhasil menanam sekitar 650 polybag talas Jepang di tengah kota dekat alun-alun Jombang. Tak berhenti disana, hasil panen talas jepang tersebut juga terus dibantu dalam proses marketingnya oleh Bu Fat. ***
